Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA

PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA

Negara Indonesia satu-satunya destinasi pariwisata dunia yang banyak memiliki banyak keunggulan, dari berbagai jenis obyek wisata alam yang beragam (Pantai, Gunung, Lembah, Goa, Hutan, Sungai, Danau dll) juga dari atraksi wisata budaya, adat istiadat serta heritage (Candicandi, Bangunan kuno, Keraton) serta atraksi wisata buatan manusianya dari Sabang sampai Merauke di Irian Jaya. 

Prospek dan tantangan pariwisata abad 21: 

  • Para pakar pariwisata Indonesia meramalkan bahwa Indonesia mempunyai peluang menjadi pusat ekonomi Asia Pasifik pada abad 21. 
  • Meningkatnya perbaikan pertambahan sarana dan prasarana yang menunjang perkembangan dan pertumbuhan industry pariwisata di Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik beberapa kali ipat dari tahun ke tahun. 
  • Peningkatan mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lain didalam negeri maupun antar Negara di Asia Pasifik yang cukup tinggi. 
  • Kemajuan teknologi komunikasi (cyber technology) dan penyebaran informasi yang sangat pesat melalui internet serta media komunikasi lainnya. 
  • Pertambahan /pengembangan teknoogi informasi dan komunikasi yang luar biasa pesatnya telah merangsang pertumbuhan industry pariwisata, event dan MICE secara cepat pula. Demikian pula penyebaran ilmu melalui seminar, konggres, konferensi, dan pameran produk baru, serta persaingan yang sangat ketat ikut memacu industry ini menjadi tak terbendung. 
  • Dalam putaran Uruguay telah disepakati agar semua jenis jasa dibuka bagi perdagangan dunia dengan tingkat liberalisasi 100% berdasarkan empat prinsip yaitu: 

    1. Cross border supply yang berarti pemasok jasa asing bebas menjual jasanya di Negara tuan rumah (host country).
    2. Consumption abroad, yang berarti pemakaian jasa di Negara Tuan rumah bebas membeli jasa dari pemasok jasa asing. 
    3. Commercial presence; yang berarti pemasok jasa asing bebas untuk membuat atau mendirikan Kantor seperti cabang dan sebagainya di Negara Tuan rumah. 
    4. Presence of natural person, yang berarti pemasok jasa asing bebas untuk mengirimkan tenaga kerjanya untuk bekerja dinegara tuan rumah. 

Inilah kenyataan yang dapat diprediksi akan terjadi di Abad 21 ini, untuk itu industry pariwisata Indonesia mau tidak mau harus bersiap diri mengikuti arus yang besar ini. Kesiapan menentukan apakah mampu ikut melaju atau sebaliknya, bahkan tenggelam di samudera.

Analisis Perkembangan Pariwisata 

Perkembangan pariwisata ada beberapa isu pariwisata internasional yang diperkirakan cukup mempengaruhi industri kepariwisataan dunia antara lain: 

  • Keamanan dunia, Terorisme, dan Hak Asasi Manusia, 
  • Pergeseran kecenderungan dari Pariwisata Masal menuju Pariwisata Minat Khusus (Special Interest Tourism), 
  • Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Development),
  • Pembangunan yang memberdayakan dan melibatkan Masyarakat (Community Based Development), 
  • Revolusi Teknologi Informasi, 
  • Semakin terbukanya Pergerakan dan Perjalanan manusia Lintas Batas Negara dan Wilayah (Borderless Tourism), 
  • Perlindungan konsumen yang semakin ketat (Consumer Right), 
  • Era Perdagangan Bebas dan Liberalisasi Industri, 
  • Serangan Amerika Serikat terhadap Irak. 

Analisis perkembangan pariwisata dalam posisi kepariwisataan Indonesia pada peta persaingan pasar global telah menjadi semakin berat karena beberapa tekanan yang terjadi karena beberapa aspek kehidupan politik dengan banyaknya partai yang belum tenang, bencana alam gunung berapi, kabut asap, banjir, transportasi udara yang terlalu padat sehingga sering terjadi delay, dan transportasi darat KA, Bus dan lainnya tidak seimbang dengan kebutuhan jumlah pengguna jasa, terjadi kemacetan di kota-kota besar, pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang kompetitif, dan kehidupan budaya yang mulai berubah kurang memperhatikan asset local wisdom (kearifan lokalnya). 

Dalam persaingan global yang harus diperhatikan antara lain: Keamanan nasional; Pemulihan krisis ekonomi; Tingginya euphoria proses otonomi daerah; banyaknya pengangguran; kurang sinergisnya program-program pemasaran pariwisata Indonesia, jaringan IT networking; program prioritas pembangunan pariwisata perlu ditingkatkan pada posisi utama, selama ini masih pada posisi keempat. 

Beberapa permasalahan dampak yang ditimbulkan dari ketidak seimbangan pembangunan di sektor pariwisata Indonesia adalah: 

  • Pembangunan pariwisata yang tidak merata, khususnya di kawasan timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah. 
  • Indonesia hanya bertumpu pada satu pintu gerbang utama, yaitu Bali. 
  • Lemahnya perencanaan pariwisata di kawasan timur Indonesia dan kurang dimanfaatkan potensi pariwisata di kawasan tersebut secara optimal. 
  • Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun. 
  • Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi yang terbatas. 

Permasalahan yang tersebut diatas semuanya bermuara pada pendanaan, sehingga pengembangannya jauh dari apa yang diharapkan, demikian juga dari dukungan partisipasi (supporting value) dari para pemerhati pariwisatanya juga banyak berbeda, baik dari faktor SDM pengelolanya (human capital). 

Dengan demikian aspek otonomi daerah tersebut menekankan pada peran stakeholder pariwisata daerah dalam menentukan bagi kelanjutan pengembangan pariwisata daerah yang ada membutuhkan: kreativitas, inovatif, semangat dan kerjasama (team work) untuk membangun asset pariwisata demi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara luas. 

Bagaimana memaknai Pariwisata 

  • Pariwisata adalah faktor penting untuk menggalang persatuan bangsa yang rakyatnya memiliki perbedaan, adat istiadat, dan cita rasa yang beragam. 
  • Pariwisata menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi karena kegiatannya mendorong perkembangan beberapa sektor ekonomi nasional. 
  • Pariwisata Internasional sangat berguna sebagai alat perdamaian dalam ketegangan-ketegangan politik antar bangsa dan negara. 
  • Pariwisata juga berperan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman, sebagai ajang reset penelitian dari seluruh masyarakat akademisi di dunia. 
  • Pariwisata juga sebagai ajang berbisnis melalui event-event MICE yang saat ini sedang marak dalam scope internasional. 
  • Pariwisata sebagai ajang berbagai pertandingan olah raga, peningkatan sportivitas, kerjasama team, loyalitas kebangsaan antar Negara dan bangsa ( Sea Games, world cup, Olympiade) 
  • Pariwisata juga sebagai alat untuk menjaga kesehatan, menghilangkan stress, relaxasi, refreshing menumbuhkan semangat jiwa yang baru, pergantian suasana tempat dan iklim serta menjauhkan diri dari segala rutinitas sehari-hari dapat menurunkan ketegangan syaraf. 
  • Pariwisata meperkenalkan berbagai budaya tradisional yang sangat beragam sehingga dapat dipergunakan sebagai ajang berkolaborasi yang positif, sehingga tercipta nilai-nilai seni budaya yang lebih berkualitas. 
  • Dengan pariwisata menciptakan perubahan sikap dan perilaku serta karakter dari berbagai pengalaman melihat dan mengikuti acaraacara adat budaya dan keagamaan daerah yang memiliki nilai filosofis yang tinggi. Sehingga dapat terjadi dari sebagian wisatawan asing yang setelah kembali ke daerah atau Negara asalnya sikap perilaku, pola pikir, pandangan berubah menjadi lebih baik. Sebagai contoh wisatawan asing yang awalnya tidak percaya adanya Tuhan setelah lama berada di Pulau Bali dan banyak melihat berbagai acara adat penduduk melakukan sesaji setiap saat akhirnya sadar adanya Tuhan.
  • Banyak wisatawan akhir-akhir ini yang melakukan wisata minat khusus senang untuk menikmati keindahan alam (Back to Nature), hal ini merupakan peluang positif bagi pariwisata Indonesia yang kaya obyek wisata alamnya. 

Pariwisata yang sekarang ini berkembang sangat signifikan adalah pariwisata minat khusus, yaitu mengunjungi obyek-obyek wisata alam (back to nature) yang banyak tersebar di kepulauan nusantara. 

Akhirakhir ini di Daerah Istimewa Yogyakarta kawasan pantai selatan menjadi idola wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia juga wisatawan asing dari keindahan pantainya. 

Sebagai contoh Back to Nature adalah istilah pariwisata yang sangat familiar dikalangan turis asing (wisman) yang berkunjung ke Indonesia. Karena mereka sangat tertarik dengan berbagai ragam keindahan alam (nature) Indonesia yang tidak dimiliki dinegara mereka sendiri. 

Salah satu obyek wisata alam (nature tourism) yaitu Gunung api purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran yang merupakan salah satu destinasi ekowisata kabupaten Gunung kidul Yogyakarta yang sangat potential sebagai ekowisata minat khusus. 

Apabila ditinjau dari kondisi alam, jenis batuan dan arsitektur wisata alamnya yang sangat indah dan langka didunia ini menjadi sangat layak menjadi incaran dunia. 

Namun demikian kenyataannya pengelolaan obyek ekowisata gunung api purba nglanggeran yang ada dikabupaten Gunungkidul ini masih dominan dikembangkan dan dikelola secara konvensional oleh masyarakat setempat. 

Dampaknya pengelolaan dan pengembangannya masih belum optimal. Keberadaan obyek wisata Gunung api purba nglanggeran ini didukung oleh obyek wisata embung Nglanggeran yang saling terintegrasi menjadi satu paket wisata alam. 

Gunung api purba Nglanggeran pernah aktif 30-60 juta tahun yang terletak didesa ngalanggeran Kecamatan Patuk Desa Nglanggeran kabupaten Gungkidul dengan ketinggian atara 200 – 700 dengan suhu udara rata-rata 23C – 27C. 

Jarak tempuh 20 km dari kota Wonosari atau 25 km dari kota Yogyakarta. Menurut pengelolanya masyarakat lokal ada beberapa keunikan yang ada di kawasan ekowisata Gunung Purba Nglanggeran antara lain: Tanaman pohon Termas yang hidup menempel di lereng gunung yang diyakini masyarakat mampu menyembuhkan penyakit melalui getahnya. 

Tanaman ini berbentuk menjalar dan hanya juru kunci yang dapat mengambil getah ini agar dapat digunakan sebagai obat untuk segala macam penyakit diantaranya: Lever, Stroke, Ambeien, Batu Ginjal, Paru-paru dan lumpuh. 

Menurut salah seorang pengelola obyek wisata Nglanggeran ini Aris Budiyono bahwa di nglanggeran ada keunikan yang lain yaitu sebuah kawasan dipuncak gunung yang hanya boleh dihuni hanya 7 buah kepala keluarga (mpu Pitu) merupakan kepercayaan turun temurun yang harus ditaati sampai sekarang. 

Sesuai dari pesan leluhur sesepuh pepunden dari dusun Tlogo yaitu Eyang Iro Dikromo, bagi mereka yang melanggar akan mendapatkan sangsinya kemudian. 

Sehingga sampai sekarang ini ketentuan tersebut masih menjadi aturan adat setempat dan dipatuhi oleh masyarakat dari generasi ke generasi berikutnya., merupakan sebuah kulturalisasi yang spesifik dari suatu daerah yang memiliki otoritas tersendiri. 

Destinasi ini merupakan wisata minat khusus yang diminati oleh wisatawan yang menyenangi kegiatan hobi naik gunung atau suka berpetualangan, sehingga kebanyakan yang menyenangi obyek wisata ini para remaja, namun demikian banyak juga peneliti yang melakukan reset ilmiah tentang batu batuan melakukan kegiatan disini.

Pemandangan Gunung api purba dan Embung nglanggeran dilihat dari udara sangat indah apalagi manakala dilakukan pada sore hari menjelang matahari tenggelam (sunset), menciptakan paduan alam dan rona pelangi yang luar biasa indahnya. 

Embung nglanggeran merupakan obyek wisata buatan yang berupa embung yang artinya reservoir atau penampungan air yang sangat besar seperti danau yang berada di puncak bukit yang memiliki mata air dan dipergunakan untuk menampung air hujan dan dimanfaatkan mengaliri sawah dan kebun yang sengaja dibangun sebagai obyek wisata kebun buah nantinya. 

Desa Nglanggeran di Yogyakarta pada awal tahun ini 2017 meraih ASEAN Community Based Tourism Award. Penghargaan ini tidak lepas dari keberhasilan Ngglanggeran membangun destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Pengelolaan yang mengikutsertakan masyarakat. 

Konsep ekonomi pariwisata yang kontribusinya sejalan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ngganggeran sendiri juga sukses menyelaraskan sektor pariwisata dan konservasi lingkungan.

Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA"