Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perkembangan Pangan Dunia dan Indonesia

Sering kali disinggung bahwa berbicara mengenai pangan sejatinya tidak terlepas sebagai kebutuhan umat manusia yang ada di belahan dunia ini. Kondisi pangan yang lambat laun mengalami ancaman kekurangan atau disebut sebagai krisis pangan kemudian menggeser isu perang dan konflik dari high politics menjadi low politics. Hal ini didasarkan bahwa krisis pangan yang telah menjadi isu high politics mampu menarik perhatian pemangku kepentingan di tingkat internasional. Betapa tidak bahwa kondisi pangan pada tahun-tahun terakhir ini sangatlah memprihatinkan. Sebelumnya Irak yang pernah mengalami embargo saja pernah mengekspor hasil pertaniannya berupa padi dan gandum, begitupun dengan Rusia.

Perkembangan Pangan Dunia dan Indonesia

Di negara-negara ASEAN, seperti Malaysia yang memiliki komuditi pangan utama berupa beras, jagung, kelapa, dan tebu memiliki pertumbuhan produksi 4,3 persen pertahun. Sementara komuditi pangan berupa jagung dan beras oleh Vietnam dan Indonesia, pertumbuhan produksinya mencapai sekitar 2,2 persen pertahunnya. Sedangkan jika dilihat jumlah pertumbuhan populasi penduduknya pertahun, Malaysia 2,5 persen, Vietnam 2,2 persen, dan Indonesia 1,9 persen. Dari hasil yang ada, walu produksi pangan tergolong kecil akan tetapi masih dianggap bahwa hal ini masih mencukupi kebutuhan pangan negara-negara tersebut jika dibandingkan populasi penduduknya pertahun.

Berbicara mengenai kondisi pangan sebelum terjadi bencana termasuk sebelum efek krisis domino melanda beberapa Negara. Indonesia memiliki kecukupan 2.015 kalori per kapita dari penduduk Indonesia yang ada, dan memiliki lahan berkisar 0,16 hektar. Jumlah lahan panen Indonesia ini tergolong kecil, akan tetapi memiliki tingkat produktivitas yang tinggi5 . 22 Hal lain yang dapat dijadikan acuan terhadap prestasi bagi produksi pertumbuhan pangan per kapita dan pertumbuhan produksi padi di Indonesia berada jauh diatas laju pertumbuhan penduduk. Artinya bahwa Indonesia terjamin dalam kecukunpan pangan.

Masalahnya kemudian adalah ketika kecukupan pangan ini tidak menjadi sebuah jaminan atas ketersediaan pangan secara terus-menerus oleh tiap-tiap Negara yang ada di dunia. Perkembangan pangan beberapa tahun terakhir ini mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Kecukupan pangan sedikit demi sedikit mulai terkuras hingga pada akhirnya menjadi krisis pangan ada di depan mata. Negara-negara yang tadinya pengekspor pangan kini mulai berbalik sebagai pengimpor pangan.

Lihat saja Indonesia, sebagai negara agraris penghasil padi kini mulai mengimpor beras. Tidak hanya beras yang di impor, mulai dari daging, kedelai, hingga garam kini mulai di impor. Jika kondisi ini terus dibiarkan akan menyebabkan ketergantungan yang sulit dihindari. Tidak hanya itu, para petani, dan produsen yang ada dalam negeri tidak lagi memiliki ruang gerak yang luas dalam memproduksi hasil lahan mereka. Imbasnya akan bermuara pada rakyat kecil yang terus mengalami penderitaan. Ironis memang, Negara yang memiliki letak yang strategis ditunjang dengan lahan yang subur harus mengimpor pangan dari negara lain. Tapi kenyataan itulah yang di hadapi Indonesia saat ini. 

Sementara negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan, terlebih Cina merupakan negara yang dianggap tidak memiliki daya. Kini, tidak hanya kebutuhan pangan penduduknya yang dipenuhi, negara-negara ini juga memberikan kehidupan social ekonomi yang jauh lebih baik. Bahkan Negara tersebut sukses dalam pembangunan pertanian, sehingga menghantarkannya memasuki era industri yang penuh dengan persaingan.724 Coba kita cermati, berbagai panganan olahan bahkan buah-buahan yang di impor dari Negara tersebut khususnya Cina membanjiri Indonesia. Jeruk misalnya, kebanyakan konsumen di pasar terlebih di supermarket lebih tertarik memilih buah impor yang satu ini ketimbang jeruk atau buah lokal yang berasal dari Indonesia. Padahal Indonesia memiliki tanaman jeruk dengan cita rasa yang segar. 

Jika kita cermati sejak tahun 1980, sektor pertanian mendapat perhatian besar dari pemerintah sehingga kondisi ketahanan pangan Indonesia sangat menjanjikan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah demi mempertahankan kondisi ketahanan pangan termasuk revolusi hijau yang di lakukan oleh pemerintah Orde Baru saat itu. Selain itu, peranan Badan Urusan Logistik (bulog) sangatlah jelas, yakni menyediakan pasar bagi produk-produk pertanian dan menetapkan harga dasar bagi para petani. Untuk membantu pekerjaannya di level desa, bulog ini mendistribusikan kewenangannya melalui Koperasi Unit Desa (KUD). Akan tetapi, fokus pemerintah kemudian berubah kearah pembangunan dan industri. Hasil dari perubahan yang terjadi ini kemudian mengisyaratkan untuk diberlakukan kebijakan impor.

Walau penolakan impor pangan khususnya beras terus di lakukan. Namun, kebijakan pemerintah yang terus membuka peluang impor tidak terelakkan lagi. Hingga 4 tahun terakhir ini, hampir sekitar 160 triliun dihabiskan pemerintah kita khusus mengimpor pangan. Padahal berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) tanaman pangan, semua provinsi yang ada di Indonesia merupakan lahan pertanian yang produktif dan menghasilkan jenis tanaman padi tiap tahunnya. Tabel di bawah ini menunjukkan luas panen dan produktivitas produksi tanaman padi seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Luas Panen- Produktivitas- Produksi Pangan (Tanaman Padi) Seluruh Provinsi


Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Perkembangan Pangan Dunia dan Indonesia"