Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandangan Kristen tentang Hakikat Manusia

Pandangan Kristen tentang Hakikat Manusia

Ada anggapan bahwa hanya dalam relasi dengan Tuhan manusia memahami hakikat kemanusiaannya dan menemukan arti serta tujuan hidupnya. Seberapa benar pernyataan itu? 

Cobalah ajukan beberapa pertanyaan kritis lainnya yang berkenaan dengan hakikat manusia! Pada bagian berikut, kita akan membahas beberapa aspek mendasar dari kesaksian Alkitab tentang hakikat manusia menurut pandangan Kristen.

1. Manusia adalah Makhluk Ciptaan Allah (lih Kej. 1 dan Kej. 2)

Fakta yang pertama dari kesaksian Alkitab tentang manusia adalah bahwa manusia makhluk ciptaan Allah. Hal ini perlu ditegaskan untuk menolak anggapan bahwa semua hal, termasuk manusia, terjadi dalam proses evolusi, dan karenanya sulit untuk memberi landasan mengapa manusia adalah makhluk pencari makna. 

Sebagai makhluk, ia tetap makhluk dan tidak pernah menjadi sama dengan khaliknya. Apa implikasi kemakhlukan manusia? Sebagai makhluk, pertama-tama, ia tergantung kepada Allah khalik dan sumber kehidupannya. 

Sebagai khalik, Allah berdaulat atas hidup dan tujuan hidup manusia. Karena itu, manusia yang menerima kemakhlukkannya akan menerima kedaulatan Allah atas hidup dan tujuan hidupnya. Itulah sebabnya secara hakiki, manusia selalu mendambakan relasi dengan-Nya. 

Sebagai makhluk, manusia bukan saja tergantung kepada Allah sebagai sumber hidup, tetapi bahwa Allah berdaulat atas hidup dan tujuan hidup manusia. Alkitab menggambarkan hubungan manusia dengan Allah pencipta-Nya, sebagai tanah liat di tangan penjunan. 

Allah berhak dan berdaulat untuk tujuan apa benda-benda atau peralatan tanah liat yang dibuat-Nya. Demikianlah manusia di tangan Allah pencipta, tujuan hidupnya ditentukan oleh khalik-Nya. Agustinus, seorang teolog terkenal mengatakan bahwa “jiwaku gelisah sampai aku menemukan kedamaian dalam Tuhan.” 

Ketika manusia menolak kemakhlukkannya dan penciptaannya oleh Allah, tidak ada alasan apa pun untuk mencarimakna hidup ini di luar diri sendiri atau masyarakatnya.

Pandangan Kristen tentang Hakikat Manusia

Dalam hal ini Marx konsisten, karena ia menolak keberadaan Allah Pencipta, ia juga menolak mencari makna dan hakikat manusia di luar diri manusia itu sendiri. 

Sebagaimana disampaikan pembahasan tentang penciptaan alam semesta dan segala isinya, Alkitab menolak teori evolusi sebagai teori asal usul, termasuk asal usul manusia, yang sejak awal manusia berbeda secara hakiki dengan ciptaan Tuhan yang lain. 

Manusia tidak berasal dari kera! Manusia bagaimanapun tetap ciptaan dan tak bisa menyamai penciptanya meskipun dengan daya rasionalitas yang luar biasa apapun. Yang diciptakan tidak akan menyamai pencipta, yang mencipta dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). 

2. Manusia diciptakan menurut Gambar Allah (Imago Dei) 

Salah satu aspek hakikat manusia berdasarkan ajaran Alkitab adalah bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Gambar Allah inilah yang dikenal dengan istilah “Imago Dei.” 

Tradisi Kristen yang mendasarkan dirinya pada cerita Alkitab dalam Kejadian 1, telah menafsirkan makna kesegambaran manusia dengan Allah dengan bermacam-macam arti. Hal ini bisa juga diartikan secara salah, seolah- olah manusia mirip dengan Allah. 

Sebagai makhluk yang diciptakan, manusia akan tetap berbeda dengan Allah Sang Pencipta. Sudah ada banyak arti diberikan kepada konsep ini, antara lain sebagai wakil Allah di dunia, dalam arti pelaksana atau mandataris Allah untuk tugas kebudayaan. 

Akan tetapi, tugas mandataris menunjuk kepada relasi manusia dengan ciptaan yang lain serta alam semesta ini. Pada zaman bapa-bapa Gereja ide ini ditafsirkan sebagai kemampuan rasional manusia yang membedakannya dengan makhlukmakhluk yang lain. 

Ada juga yang mengartikan kesegambaran itu sebagai kemiripan dalam sifat-sifat Allah. Dari berbagai arti yang ditawarkan oleh para ahli, arti yang paling mendasar yakni: potensi/kemampuan manusia untuk berhubungan atau merespons Allah, dan dalam arti ini manusia adalah makhluk religius. 

Manusia diciptakan sebagai gambar Allah berarti manusia diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi pihak lain yang diajak komunikasi oleh Allah (Allah menyatakan diri dan kehendak-Nya serta menuntut responsnya). 

Kenyataan bahwa Alkitab menyatakan bahwa Allah berfirman/memberi perintah kepada manusia adalah bukti bahwa manusia dengan satu dan lain cara dapat menyatakan hubungannya dengan Allah. 

Penciptaan manusia sebagai gambar Allah memungkinkan terjadinya sesuatu antara Allah dan manusia, yaitu makhluk yang berhubungan dengan Allah dan kepada siapa Ia berfirman. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kej. 1:27! Lalu, Anda diberi kesempatan untuk bertanya secara kritis setelah membaca Kej. 1:27 Implikasinya bagi tanggung jawab manusia adalah bahwa manusia selalu mendambakan relasinya dengan Allah atau yang dianggap Allah. 

Inilah yang kita sebut orientasi religius manusia yang memungkinkan fenomena agama selalu hadir dalam sejarah umat manusia: fenomena agama selalu hadir dalam kehidupan manusia dari dulu hingga sekarang. 

Fenomena agama bisa mengalami kemerosotan, namun kesadaran religius manusia dalam arti kesadaran akan adanya suatu kodrat Ilahi di atas manusia yang penuh dengan misteri yang tidak dapat secara tuntas diselidiki dan dipahami oleh manusia.

Kesadaran akan adanya kodrat Ilahi di atas manusia dan tak terbatas ini, mendorong manusia untuk selalu kagum, takjub, dan rendah hati, yang mendorong manusia untuk beribadah kepada-Nya. 

Potensi ini dapat mengarah kepada yang positif yakni merespons dengan percaya kepada Allah atau yang dianggap Allah, namun juga bisa mengarah kepada yang negatif yakni penolakan dan penyangkalan akan eksistensi Allah dengan segala konsekuensinya. 

Potensi ini sebagaimana potensi yang lain perlu dipupuk, diarahkan serta dikembangkan agar dimanifestasikan secara bertanggung jawab dan menuju kepada pertumbuhan yang sehat. 

Kecenderungan untuk terus berorientasi kepada kodrat Ilahi di atas dirinya itulah yang disebut “dimensi religius” dari manusia yang menjadikan manusia makhluk religius. Jadi, ada kaitan erat antara manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dengan potensi religius/kesadaran religius yang membuatnya sebagai makhluk religius. 

Silakan Anda menanya secara kritis yang berkenaan dengan adanya kaitan erat antara manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dengan potensi religius/kesadaran religius yang membuatnya sebagai makhluk religius! 

3. Manusia sebagai Makhluk Sosial 

Manusia sebagai makhluk sosial menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia adalah tidak sendirian dan selalu dalam keterhubungan dengan orang lain dan berorientasi kepada sesama (Kej.2:18). 

Perdebatan mengenai hakikat manusia dalam dimensi individual dan kolektif telah berjalan lama yang menghasilkan dua ideologi besar yang memengaruhi sistem kemasyarakatan, politik, dan ekonomi dari penganutnya. 

Negara-negara dunia pertama yang sangat mengagungkan dimensi individual dengan memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan individu telah melahirkan sistem masyarakat dan ekonomi yang kapitalis dengan ideologi pasar bebasnya. 

Ideologi ini berpendapat bilamana manusia diberi kebebasan, manusia akan bekerja keras untuk menjadi efisien, dan kalau semua bekerja efisien, semua akan maju. Jadi, pasar bebas pada akhirnya akan memajukan semua. 

Benarkah? Atau dengan ideologi ini jurang antara yang kaya dan miskin semakin menjadi lebar? Manakah yang benar? Ajukanlah beberapa pertanyaan kritis yang berkenaan dengan kebebasan individu telah melahirkan sistem masyarakat dan ekonomi yang kapitalis. 

Demikian juga pihak yang sangat mengagungkan dan menomorsatukan dimensi sosial dari kemanusiaan telah melahirkan sistem kemasyarakatan yang dikenal dengan sosialisme. Pada sistem ini hak-hak dan kebebasan individu harus tunduk kepada kepentingan kelompok atau masyarakat. 

Persaingan ideologis seperti ini telah terjadi dan dikenal dengan perang dingin. Meskipun perang dingin itu kini telah berakhir dan kelihatannya sistem kemasyarakatan dan ekonomi kapitalis tampak unggul, hal ini tidak berarti bahwa pemutlakan dimensi individual manusia adalah suatu kebenaran yang didukung oleh kekristenan. 

Bagaimanakah sesungguhnya sikap Kristen yang bertanggung jawab dalam hal ini? Ajukanlah beberapa pertanyaan kritis yang berkenaan dengan dampak mengagungkan dan menomorsatukan dimensi sosial dari kemanusiaan telah melahirkan sosialisme. 

Teologi Kristen yang banyak berkembang di Barat tempat dimensi individu itu sangat diunggulkan. Kita harus mengkritik terhadap segala bentuk privatisasi ajaran Kristen yang fundamental seperti: privatisasi dosa dan keselamatan maupun pemahaman diri yang sangat individualistik (Baum 1975, 196). 

Pada Kitab Kejadian 2 dinyatakan bahwa tak baik kalau manusia itu sendiri, oleh karena itu Allah menciptakan penolong yang sepadan. Hal ini tidak hanya terbatas pada manusia jenis kelamin yang lain, tetapi juga bahwa manusia sendirian adalah tidak baik. Allah menghendaki manusia hidup dengan sesamanya.

Pandangan Kristen tentang Hakikat Manusia
Ada ahli teologi bahkan yang mengatakan bahwa hanya dalam hubungan dengan orang lain kita memahami dan menemukan hakika tkita sebagai manusia. Hal ini membawa implikasi bahwa manusia selamanya dan selalu berorientasi kepada sesamanya. 

Manusia tak tahan dalam kesendirian. Orientasi kepada sesama juga menyebabkan lahirnya berbagai pranata dan lembaga sosial (misalnya keluarga, komunitas darilokal sampai internasional, maupun pranata politik, ekonomi, dan lain-lain). 

Dengan kata lain, lahirnya berbagai pranata sosial merupakan konsekuensi logis dari penciptaan manusia sebagai makhluk sosial. Orientasi kepada sesama manusia juga turut berperan dalam berbagai tindakan religius dan pertimbangan serta pengambilan keputusan etis. 

Itulah sebabnya orang tidak bisa beragama sendiri. Agama selalu merupakan fenomena sosial, walaupun hubungan seseorang dengan Tuhan, atau yang dianggap Tuhan sangat bersifat pribadi. Inilah yang melahirkan komunitas iman: seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha dll. 

Beragama tak bisa lepas dari komunitas, karena tak mungkin beragama secara sendiri. Agama selalu punya dimensi sosial atau komunitas. Hal ini sehat sejauh komunitas-komunitas dengan identitas agamawi yang berbedabeda tersebut tidak membangun tembok-tembok pemisah apalagi prasangka dalam hubungan antarmereka. 

Kita harus berhati-hati dengan pandangan yang memutlakkan dan mengunggulkan dimensi sosial serta meremehkan dimensi individu, dan karenanya jatuh ke dalam kolektivisme. Sebaliknya, ada juga pendapat yang begitu mengutamakan dimensi individu di atas dimensi sosial, dan karenanya jatuh ke dalam individualisme. 

Sikap yang lebih bertanggung jawab adalah bahwa kita adalah individu dalam kolektivitas, ada keseimbangan antara dimensi individu dan kolektivitas manusia. Individu tidak boleh dikorbankan demi kolektivitas, sebaliknya kolektivitas tidak bisa diabaikan demi individualitas. 

Kita dipanggil untuk percaya secara individu, namun kita juga terpanggil untuk menjadi orang percaya dalam kolektivitas yang kita sebut Gereja. Kita perlu memerhatikan pertumbuhan dan kepentingan individu, sebaliknya kita juga bertanggung jawab untuk pertumbuhan bersama-sama. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Efesus 4:11-16, setelah itu, ajukanlah beberapa pertanyaan kritis yang timbul.

4. Manusia sebagai Makhluk Rasional dan Berbudaya 

Allah (menurut Alkitab) memberi perintah kepada manusia untuk memerintah, menaklukkan serta memelihara alam semesta., menunjukkan adanya hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dengan alam semesta ini. 

Inilah yang biasanya disebut sebagai tugas kemandatarisan manusia (manusia sebagai mandataris Allah) dalam arti pelaksana dan wakil Allah dalam memerintah dan memelihara alam semesta ini. Jadi, berbudaya adalah perintah atau mandat yang kita sebut dengan mandat kebudayaan. 

Mandat itu hanya bisa dilaksanakan karena Tuhan memperlengkapi manusia dengan potensi rasional (kemampuan rasional) yang menjadi salah satu ciri khas manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lain, bahkan dengan binatang paling cerdas sekalipun. 

Konsisten dengan tugas sebagai mandataris Allah, manusia diperlengkapi oleh Allah dengan potensi rasional dan karena itu dapat berbudaya. Ini juga salah satu keunikan manusia yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain. 

Bahwa rasionalitas adalah keunikan manusia ternyata dalam fakta bahwa kebudayaan manusia (dalam arti yang sempit) sebagaibuah rasionalitasnya mengalami perkembangan maju, dan perkembangan itu telah membawa kita pada apa yang dikenal dengan zaman ilmu dan teknologi modern (lih. Kej. 1:16-18; Kej. 2:15). 

Dengan kata lain, kemajuan manusia yang membawa manusia kepada abad ilmu dan teknologi modern adalah konsekuensi logis dari rasionalitas manusia (penciptaan manusia sebagai makhluk rasional), dan itu sesuai dengan kehendak Tuhan. 

Hanya saja perlu dipertanyakan, untuk apa dan untuk siapa kemajuan kita dalam bidang ilmu dan teknologi modern. Di sinilah berbagai macam isu etis modern muncul yang membutuhkan pemikiran dan pergumulan yang serius. 

Potensi akal ini sangat mengagumkan sehingga manusia bukan saja dapat menciptakan teknologi modern, tetapi bahkan dapat memecahkan rahasia yang selama ini belum terpecahkan termasuk bepergian ke planet yang lain. 

Potensi ini juga sangat mengerikan, dan kita telah menyaksikan bahwa potensi akal manusia yang luar biasa dapat menciptakan persenjataan modern dan canggih yang cukup untuk menghancurkan planet bumi kita. 

Masih ingatkah Anda akan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki? Apa dampaknya? Dapatkah dibayangkan bahwa dahsyatnya potensi rasional manusia itu bisa sangat positif dan bisa juga sangat negatif. 

Dalam kekristenan, kita mengenal “Hukum Kasih” yakni yang kita sebut “Hukum Utama.” Dalam hukum utama Tuhan Yesus menuntut agar kita “mengasihi Allah dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi” (lih. Mat.22:37-38). 

Jadi, potensi rasional manusia dengan segala produk dan hasilnya, perlu dipakai untuk mengasihi Allah juga. Tanpa itu, kita akan berulang kali menyaksikan pemusnahan umat manusia dan peradabannya seperti dalam pemboman Hiroshima dan Nagasaki pada waktu yang lalu. 

5. Manusia sebagai Makhluk Etis 

Secara klasik, Alkitab menggambarkan bahwa manusia diberi “hukum” (nomos) oleh Allah dalam bentuk larangan memakan buah pohon pengetahuan hal yang baik dan jahat. Silakan Anda mengamati dan menafsirkanKej. 2:17. Setelah itu, ajukanlah beberapa pertanyaan kritis yang timbul. 

Nomos ini menempatkan manusia pada persimpangan jalan ketika ia dapat memilih di antara dua alternatif. Dua alternatif itu adalah ketaatan atau pelanggaran terhadap nomos (dapat juga berarti berbuat yang baik atau jahat). 

Kesempatan untuk memilih ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk memilih dari dua alternatif yang diperhadapkan kepadanya. Dengan kata lain, manusia tidak secara determinatif harus memilih salah satunya.

Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti nalurinya. Ajaran Kristen mengedepankan adanya pilihan yang bebas, dan hanya karena adanya pilihan bebas itulah manusia tidak saja bertanggung jawab atas pilihannya tetapi juga diminta mempertanggungjawabkan pilihannya itu. 

Sebab tanpa pilihan bebas, manusia tidak dapat dituntut untuk bertanggung jawab. Kesadaran untuk membedakan yang baik dan yang jahat menunjuk kepada hakikat manusia sebagai makhluk etis. 

Ajukanlah beberapa pertanyaan kritis Anda yang berkenaan dengan manusia sebagai makhluk etis! Bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk etis berarti manusia mempunyai kesadaran etis: kesadaran untuk membedakan mana yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah, dan yang bertanggung jawab dari yang sebaliknya. 

Manusia tidak hanya dilengkapi dengan kesadaran etis, tetapi juga dilengkapi dengan kebebasan untuk memilih dari alternatif baik dan buruk, benar dan salah, bertanggung jawab dan tidak bertanggung jawab. 

Hanya apabila manusia mempunyai kebebasan etis (memilih secara etis), manusia dapat dituntut pertanggungjawaban etis. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa manusia adalah makhluk etis dalam arti sebagai berikut. 

Pertama, manusia mempunyai kesadaran etis yakni kesadaran untuk membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang bertanggung jawab dan yang tidak bertanggung jawab. Kedua, manusia mempunyai kebebasan etis yakni memilih secara bebas dari alternatif di atas. 

Ketiga, manusia mempunyai pertanggungjawaban etis, yakni bertanggung jawab atas pilihannya. Untuk sementara kita dapat menarik beberapa simpulan dari uraian tersebut. Dari deskripsi tentang hakikat manusia di atas, kita dapat memahami mengapa Kitab Kejadian 1:31 mengatakan “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik….” 

Dari deskripsi tersebut kita juga dapat menarik simpulan bahwa pada dasarnya manusia ditempatkan oleh Allah dalam hubungan multidimensional (hubungan yang berdimensi banyak): yaitu dengan Allah, sesama manusia, diri sendiri, dan dengan alam semesta. 

Karena manusia juga adalah makhluk etis, setiap dimensi hubungan itu mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab etis. Ada tuntutan dan tanggung jawab etis manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesama, diri sendiri, dan alam semesta. 

Dari sini, kita mencoba menarik suatu “ultimate principle” yang berhubungan dengan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam merangkum berbagai hukum dan kebajikan dalam suatu prinsip pokok: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu ... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat.22:37, 39b). 

Dengan memerhatikan ajaran Tuhan Yesus seperti tertulis dalam kitab-kitab Injil dan ajaran para rasul, kita dapat juga merumuskan kedua hukum kasih dengan satu hukum saja: kasih kepada Allah melalui kasih kita kepada sesama dan alam ciptaan Tuhan. 

Tuhan Yesus mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang menderita, telanjang, sakit dan dalam penjara (lih. Mat. 25:31-46). Rasul Yohanes malah mengatakan bahwa mereka yang mengatakan mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya (sesamanya) adalah suatu kebohongan (lih. 1 Yoh. 4:20). 

Dalam Perjanjian Lama, Nabi Mikha mengecam ibadah kepada Tuhan yang tak disertai dengan berlaku adil terhadap sesama manusia. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Mikha 6:1-8. Setelah itu, ajukanlah beberapa pertanyaan kritis yang muncul! 

Kita hidup dalam suatu dunia yang penuh dengan kontradiksi. Bagaimana mungkin dunia dan manusia yang digambarkan begitu luar biasa di atas, ternyata dalam kenyataan hidup kini penuh dengan peperangan, kekerasan, yang dimotivasi oleh keserakahan, pementingan diri, dan kebencian? 

Hal ini membawa kita kepada pokok antropologi lain yakni bahwa manusia, menurut kesaksian Alkitab adalah makhluk berdosa.

Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Pandangan Kristen tentang Hakikat Manusia"