Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Agama dari Berbagai Sudut Pandang

Pengertian Agama dari Berbagai Sudut Pandang

Fenomena agama merupakan fenomena yang tak bisa dijelaskan secara tuntas dengan kategori ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun begitu, Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah ternama, mengatakan bahwa: 
“in religion the whole of human being personality is involved: the emotional and moral facets of the human psyche above all, but the intellectual facet as well. And the concern extends to the whole of Man’s World; it is not limited to that part of which is accessible to the human senses and which can therefore be studied scientifically and can be manipulated by technology (John Goley 1968, v). 
Jadi menurut Toynbee, dalam agama, keseluruhan kepribadian manusia terlibat antara lain: segi-segi emosional, segimoral dan kejiwaan, dan segi intelektual juga. 

Keprihatinan agama mencakup keseluruhan “dunia manusia”; tidak hanya dibatasi pada bagian yang bisa diakses oleh indra manusia yang pada gilirannya dapat dipelajari secara ilmiah tetapi juga yang dapat dimanipulasi oleh teknologi. 

Singkatnya, seluruh kemanusiaan kita terlibat di dalam pengalaman beragama manusia. Cobalah Anda amati hal-hal apa saja dalam diri manusia yang terlibat di dalam pengalaman beragama manusia! Kita mencoba menelusuri berbagai pengertian agama sebagaimana dikemukakan oleh berbagai ahli dari berbagai perspektif. 

Jika ditelusuri, ternyata ada begitu banyak definisi/pengertian agama dari yang sifatnya sangat positif sampai ke yang sifatnya sangat negatif. 

Begitu bervariasinya definisi agama karena, antara lain, ada yang memasukkan agama-agama yang sangat sederhana atau primitif, seperti dalam bentuk animisme/dinamisme, sampai ke agama-agama yang lebih rumit dan kompleks, seperti dalam agama-agama yang monoteisme ke dalam definisi mereka. 

Pada umumnya definisi-definisi tersebut bersifat positif dan tidak menilai benar atau salahnya suatu keyakinan religius. Namun, ada juga definisi-definisi yang sangat kritis bahkan cenderung merendahkan pengalaman agamawi manusia. 

Cobalah Anda amati dan kemukakan beberapa definisi tentang agama yang sangat kritis! Berikut ini kita akan melihat beberapa contoh definisi, dan dengan menelusuri beberapa definisi mudah-mudahan kita menangkap pengertian agama. 

Beberapa definisi yang diberikan oleh berbagai kamus antara lain seperti berikut; Penguin Dictionary of Religion (1970) mendefinisikan agama sebagai suatu istilah umum yang dipakai untuk menggambarkan semua konsep tentang kepercayaan kepada ilah (ilah-ilah) dan keberadaan spiritual yang lain atau keprihatinan ultima yang transendental. 

Britanica Concise Encyclopedia (online, 2006) mendefinisikan agama sebagai hubungan manusia kepada Allah atau ilah-ilah, atau apa saja yang dianggap sakral, atau dalam beberapa kasus hal-hal yang supernatural. 

Encyclopedia Britanica (online, 2006) mendefinisikan agama sebagai hubungan manusia dengan apa yang dianggap sebagai suci, sakral, spiritual atau ilahi. Selain definisi-definisi dari kamus yang sifatnya netral, ada juga pengertian agama yang sifatnya negatif. Berikut tiga contoh definisi negatif tentang agama: 
  1. Karl Marx mendefinisikan agama adalah vitamin untuk masyarakat yang tertindas ... agama adalah candu bagi masyarakat. 
  2. Sigmund Freud dalam New Introductory Lectures on Psychoanalysis, mengatakan bahwa agama adalah ilusi dan menarik kekuatannya dari fakta bahwa ia berasal dari keinginan-keinginan instingtif manusia. 
  3. Bertrand Russel berpendapat bahwa agama adalah sesuatu yang terbawa/tertinggal dari masa kanak-kanak dari inteligensi kita, agama akan lenyap ketika kita mengadopsi penalaran dan ilmu pengetahuan sebagai penuntun kita.
Untuk lebih memperjelas pemahaman kita mengenai agama secara umum, sebenarnya ada empat pendekatan definisai agama yakni: substantif, fungsional, verstehen, dan formal. Pendekatan subtantif dan pendekatan fungsional akan dibahas pada alinea berikut. 

Dua pendekatan lain (verstehen dan formal) tidak dibahas di sini, Anda dipersilakan mencari di buku lain untuk memahami pendekatan verstehen dan formal! Definisi-definisi substantif adalah definisi yang melihat apa substansi agama. 

Misalnya, Tyler mendefinisikan agama sebagai “kepercayaan kepada keberadaan spiritual.” Ini menunjukkan substansi agama sebagai kepercayaan kepada yang hal spiritual/rohaniah. Namun, kadang definisi substantif dipakai juga untuk analisis fungsional. 

Misalnya saja Ross (1901:197) melihat agama sebagai sesuatu yang memberi kontrol sosial tertentu. Dalam konsep ini, agama sudah bersifat fungsional, meskipun Tyler sebenarnya mendefinisikan agama secara substantif. 

Ia mengatakan bahwa agama sebagai suatu kepercayaan kepada yang tak terlihat, dengan perasaan takut, kagum, hormat, rasa syukur, dan kasih, demikian pun institusinya seperti doa, ibadah, dan pengorbanan. 

Definisi fungsional menekankan pada fungsi agama, atau apa yang dilakukan agama. Contoh dari definisi-definisi fungsional adalah definisi yang dikemukakan Ward dan Cooley berikut. Ward (1898) berpendapat bahwa agama adalah suatu substitusi dalam dunia yang rasional terhadap insting pada dunia yang subrasional. 

Cooley (1909:372) juga mendefinisikan agama sebagai suatu kebutuhan bagi hakikat manusia, untuk menjadikan hidup kelihatan lebih rasional dan baik. Penulis setuju dengan definisi yang diberikan oleh Thomas H. Groome dalam bukunya Christian Religious Education. 

Ia mengatakan bahwa agama adalah: “human quest for the transcendent in which one’s relationship with an ultimate ground of being is brought to consciousness and somehow given expression” (Groome 1980, 22). 

Penulis setuju dengan definisi ini karena tiga alasan. Pertama, semua agama tentu berurusan dengan yang transenden dan manusia mencari yang transenden tersebut karena dalam dirinya ada suatu kesadaran religius untuk mengakui adanya suatu kodrat yang melampaui manusia. 

Kedua, yang transenden itu juga bisa menjadi dasar keberadaannya, dan dalam arti itu sangat imanen dengan manusia. Jadi, definisi ini menjaga keseimbangan antara yang transenden dan imanen. 

Tuhan tak semata transenden jauh di sana, yang bisa membuat manusia merasa teralienasi dari berbagai hal bahkan dengan diri sendiri karena mencari-Nya, tetapi juga tidak sekadar imanen karena bisa juga manusia lalu menyamakan dirinya dengan Tuhan. 

Imanensi Tuhan menyatakan kedekatan-Nya dengan ciptaan-Nya. Ketiga, dalam pencarian itu manusia berusaha berelasi dengan Tuhan sebagaimana Tuhan juga berelasi dengan manusia, tetapi relasi-relasi itu diberi manifestasi dengan berbagai cara: iman, ritual, ibadah dan ketaatan terhadap apa yang dikehendaki oleh sang Pencipta yang transenden dan dasar keberadaan tadi.
Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Pengertian Agama dari Berbagai Sudut Pandang"