Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Allah Pembaharu Ciptaan-Nya dalam Agama Kristen

Allah Pembaharu Ciptaan-Nya dalam Agama Kristen

Pokok kepercayaan mendasar ketiga tentang Allah adalah Allah sebagai pembaharu ciptaan-Nya yang menyatakan diri dalam Roh Kudus. 

Banyak orang menyangka bahwa Allah baru hadir dan bekerja dalam Roh Kudus pada Perjanjian Baru yakni ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta di Yerusalem. 

Hal ini tidak benar. Kehadiran maupun tindakan Allah dalam Roh Kudus telah berlangsung jauh sebelumnya bahkan sejak awal, karena pada hakikatnya Allah adalah Roh. Pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Allah dalam Roh yang berkarya dalam penciptaan tersebut. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kej.l:7-2:25. Roh Kudus dalam PL tidak saja dikaitkan dengan penciptaan, tetapi juga dengan nubuat. Sudah jelas bahwa Roh Allah adalah berbeda dengan roh manusia, sebab Roh Allah adalah Allah itu sendiri. 

Dalam PL juga ditekankan bahwa Roh Allah itu mengilhamkan nubuatan. Ini adalah salah satu tema utama Alkitab. Allah yang melampaui kita tetapi masuk dalam dunia manusia, bukanlah dengan maksud untuk menakuti, tetapi justru untuk berkomunikasi. 

Roh Allah merupakan suatu kekuatan, namun kekuatan yang dirancang untuk mengomunikasikan kehendak Allah dan membawa ciptaan kepada hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebabnya dalam Alkitab sering ada hubungan yang erat antara Roh Allah dan firman Allah. 

Roh Allah dan firman Allah tak dapat dipisahkan. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Mzm.33:6 dan 2 Sam. 23:2. Contoh konkret dari hubungan ini adalah pengalaman Raja Saul. Ketika Saul menolak firman Allah, konsekuensinya “Roh Allah meninggalkannya. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan 1 Sam. 15:26 dan 16:14. Hubungan ini sangat penting, dan Gereja sering membuat perbedaan tajam dan karena itu, kehilangan suatu perspektif alkitabiah yang cukup penting. 

Memang hubungan ini sangat kuat di dalam Perjanjian Lama. Bilamana Roh Allah datang kepada seseorang, Ia mengomunikasikan maksud berita dari Allah. Berita ini dapat saja mengambil bentuk-bentuk yang misterius. 

Ia dapat datang melalui mimpi seperti dalam peristiwa Yusuf yang dimampukan untuk menafsirkan arti mimpi Firaun melalui Roh Allah yang ada dalam dirinya. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kej. 41:38. Ia bisa juga datang melalui penglihatan. 

Orang-orang seperti Abraham, Yakub, Yehezkiel, dan Daniel menangkap maksud Allah melalui suatu penglihatan. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kej. 15:1, Kej. 46:2, Yeh. 1:1, Dan. 1:17; 4:5; 7:7. 

Akan tetapi, harus disadari bahwa bukan pengalaman misterius yang menentukan seseorang dapat bernubuat atau tidak, tetapi Allah datang dengan Roh-Nya yang membuat manusia dimampukan untuk mengomunikasikan maksud dan firman Allah kepada sesamanya. 

Hal ini nyata, misalnya, dalam nabi-nabi yang lebih kemudian seperti Amos, Mikha, Zakaria, dan lain-lain. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Am. 3:8, Mi.3:5 danZa.7:12. 

Singkatnya bilamana seseorang bernubuat, itu karena Roh Allah datang ke atasnya dan mengomunikasikan maksud atau berita dari Allah melaluinya. 

Hal lain yang juga cukup penting kita catat sepanjang itu berkaitan dengan Roh Allah di dalam PL adalah tentang kepribadian Roh Allah. Di dalam PL, Roh itu tidak tampak sebagai keberadaan yang Ilahi. Ia lebih dilihat sebagai kehadiran dan intervensi (pelibatan diri) pribadi Allah. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Yes. 31:3. Di dalam kata-kata ini, Yesaya bukan mempertentangkan daging dan roh sebagai bagian luar dan dalam dari seseorang yang sama. Yang ia lakukan adalah mengelompokkan “daging dan manusia bersama-sama, dengan Roh dan Allah bersama-sama.” 

Roh merupakan realitas (kenyataan) pada pihak Allah yang berbeda dengan pihak manusia. Apabila Roh Allah hadir di dalam manusia, itu berarti intervensi Allah sendiri yang Mahakasih dan pribadi. Dalam Yesaya 63, Roh merupakan ekspresi pribadi dan Allah sendiri.

Ia adalah suci, bukan saja merupakan kuasa Ilahi tetapi sifat moral dari Allah. Ia adalah Allah yang bekerja untuk kepentingan umat-Nya. Perlu dicatat bagaimana Roh itu disamakan dengan “lengan” Allah dan yang hendak dikatakan adalah bahwa Roh itu merupakan aktivitas penyelamatan-Nya. 

Roh itu adalah kuasa yang personal dan aktif dari Tuhan Allah. Walaupun dalam PL kita menjumpai fakta Roh Allah yang berintervensi dalam kehidupan manusia, baru dalam Perjanjian Barulah dinyatakan fakta tentang Roh Kudus secara lebih luas oleh para penulisnya. 

Meskipun dalam Injil- injil sekalipun sangat sedikit diungkapkan tentang Roh Kudus, kalau diperhatikan baik, Roh Kudus justru berpusat dalam diri Tuhan Yesus Sang Mesias dan kemudian juga dicurahkan kepada orang-orang percaya, terutama pada peristiwa Pentakosta. 

Mungkin ada baiknya kita bertanya mengapa Yesus pada suatu ketika mengatakan kepada para murid-Nya: “Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. “Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Yoh. 16:7. 

Kata-kata ini diucapkan dalam konteks janji pemberian Penolong atau Penghibur yakni Roh Kudus. Kita tahu bahwa meskipun Yesus adalah Allah sejati, tetapi Ia juga adalah manusia sejati. Sebagai manusia, Ia terbatas dalam hal kehadiran-Nya pada satu tempat di suatu saat. 

Dengan kehadiran atau kedatangan Roh Kudus, Ia tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan juga dalam pekerjaan-Nya. Roh Kudus adalah sesungguhnya Roh Allah dan juga Roh Yesus Kristus dan dengan demikian Ia adalah Allah itu sendiri. 

Karena memang Allah adalah Roh adanya. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Yoh. 4:24. Roh Kudus memiliki semua ciri keilahian sama seperti yang dimiliki oleh Allah, yakni Mahahadir, Mahatahu, dan Mahakuasa. 

Silakan Anda mengamati dan menafsirkan l Kor. 2:10-16; Luk. 1:35; Kis. 1:8. Karena itu, kalau kita menyembah Allah, sesungguhnya kita menyembah Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa Pencipta, Yesus Penyelamat, dan Roh Kudus Pembaharu dan Penolong. 

Walaupun Roh Kudus tidak dapat kita batasi pekerjaan-Nya dalam dunia ini, dalam kesempatan ini kita akan membatasi pembahasan kita tentang pekerjaan-Nya di dalam kehidupan orang beriman dan persekutuan orang- orang beriman yang kita sebut Gereja. 

Memang membatasi peranan Roh Kudus sebagai Pembaharu dan Penolong juga tidak tepat, karena Ia terlibat bersama Bapa dalam karya Penciptaan dan terlibat bersama Yesus Kristus dalam karya Penyelamatan. Akan tetapi, dua peranan itu sangatlah menonjol dalam Perjanjian Baru. 

Marilah kita melihat peranan tersebut secara lebih mendalam. Bagaimanakah karya Allah di dalam Roh Kudus yang memperbaharui? Pertama-tama kita harus akui bahwa kita menjadi orang percaya karena karya pembaharuan-Nya. 

Sebagai orang berdosa, kita telah mati secara rohani. Namun oleh pekerjaan Roh Kudus, kita mengalami kelahiran kembali atau kelahiran baru secara rohani. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Yoh. 3:5-7. 

Hal ini memungkinkan kita menjadi orang beriman kepada Allah di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia. Bandingkan juga dengan peristiwa Pentakosta setelah khotbah Petrus, ada ribuan orang menjadi percaya dan dibaptis (Kis. 2). 

Pembaharuan itu tidak hanya menyangkut kepercayaan kita, tetapi menyangkut juga sifat dan tabiat kita. Di dalam Kristus kita menjadi ciptaan baru. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan 2 Kor.5:17. Sebagai ciptaan baru, yang lama telah lenyap dan yang baru telah terbit, termasuk sifat atau watak kita. 

Itulah sebabnya Paulus menekankan bahwa kalau kita hidup oleh Roh, kita tidak akan menuruti keinginan daging. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Gal. 5:16. 

Sebagai ganti perbuatan daging (Gal. 5:19-21), kita akan menghasilkan buah Roh yakni “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal. 5:22-23). 

Silakan Anda mengamati diri Anda sendiri buah Roh apa saja yang telah ada dalam diri Anda! Sifat atau ciri-ciri ini adalah buah atau karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. 

Walaupun demikian, kita harus mengatakan bahwa karya Roh Kudus ini merupakan suatu proses yang tidak sekali jadi, karena kita masih juga berperang melawan kemanusiaan kita yang lama yang dikuasai oleh keinginan daging. 

Karya pembaharuan Allah tidak saja bagi orang percaya secara individu, melainkan juga bagi persekutuan orang-orang percaya yang kita namakan Gereja. 

Oleh kuasa dan karya Roh Kudus, terbentuklah suatu persekutuan orang-orang percaya yang tekun dalam persekutuan, bersaksi dan melayani dalam kasih persaudaraan. 

Karya pembaharuan Roh Kudus memungkinkan adanya suatu persekutuan yang baru, yang setia dan tekun melaksanakan tugas panggilannya untuk bersaksi dan melayani. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kis.2:41-47. 

Jadi, ketekunan mereka dalam persekutuan mencakup juga dimensi kehidupan rohaniah, yakni untuk berdoa dan melaksanakan sakramen perjamuan, juga dalam memperdalam pengetahuan dan pemahaman mereka akan pengajaran para rasul.

Mereka juga bertekun dalam pelayanan kasih kepada sesamanya yang membutuhkan. Selanjutnya, dalam seluruh Kisah Para Rasul kita membaca bagaimana oleh pimpinan Roh Kudus, bukan saja para rasul tetapi juga persekutuan orang percaya bertekun dalam kesaksian mereka, baik melalui kata-kata maupun perbuatan nyata, sehingga jumlah orang percaya terus bertambah. 

Dengan menggambarkan peranan Roh Kudus yang membaharui, baik orang percaya secara individu maupun secara bersama-sama sebagai gereja, kita sesungguhnya telah menunjukkan bagaimana Roh Kudus merupakan penolong yang dijanjikan oleh Yesus Kristus. 

Roh Kudus menolong kita untuk membuka mata rohani kita sehingga kita dapat percaya kepada misteri kasih Allah dalam Yesus Kristus yang menyelamatkan, menolong kita untuk mengubah sifat-sifat kita sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi juga menolong Gereja untuk setia dan mampu melaksanakan tugas panggilannya untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani.

Akan tetapi, kita juga dapat berbicara mengenai pertolongan-Nya dalam bentuk-bentuk yang lain. Misalnya: menghibur di kala duka, memberi kekuatan di kala menghadapi penganiayaan, menyatakan kebenaran Allah, menolong kita untuk berdoa dengan benar, dan sebagainya. 

Silakan Anda mengamati dan mendaftar pertolongan-Nya yang lain dalam kehidupan Anda! Jadi, ketika kita berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya, sesungguhnya kita mengharapkan pertolongan Allah melalui Roh Kudus. 

Pada akhirnya, kita harus menyebut satu hal lagi tentang peranan Roh Kudus yang membaharui. Setelah kenaikan Yesus ke surga dan kemudian turunlah Roh Kudus, sesungguhnya sejarah dunia telah memasuki suatu era baru yakni era Roh Kudus yang mencapai puncaknya ketika Yesus datang untuk kedua kalinya. Pada saat itulah karya Allah disempurnakan, Ia akan membaharui segala sesuatu (lih. Why. 21:5-6). 

Dalam ayat ini, Tuhan mengatakan:“Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru! ”Kemudian dilanjutkan dengan mengatakan “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Allah yang dipercayai oleh umat Kristen, adalah Allah yang sejak awal menjadi Pencipta segala sesuatu dan memeliharanya tidak saja dengan hukum alam tetapi dengan intervensi langsung, dan adalah Allah yang sama yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. 

Allah ini adalah juga yang membaharui hidup manusia, baik secara individu maupun bersama-sama sebagai orang percaya, dan pada akhirnya membaharui segala sesuatu pada akhir sejarah. Ia akan menghadirkan langit dan bumi yang baru. 

Ia akan menyempurnakan pemerintahan-Nya sebagai Raja yang menghadirkan kasih, damai sejahtera, keadilan, kebebasan, keutuhan, kesamaderajatan, dan lain-lain.
Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Allah Pembaharu Ciptaan-Nya dalam Agama Kristen"