Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sikap Apresiasi Seni Rupa Murni Nusantara

Hasil karya seni rupa murni Indonesia telah ada sejak zaman prasejarah dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kamu dapat menunjukkan sikap apresiatif terhadap hasil karya seni rupa murni tersebut.

Sikap Apresiasi Seni Rupa Murni Nusantara

1. Proses Berkarya Seni Rupa 

Seni rupa sebagai aktivitas manusia dalam berolah rasa muncul bersamaan dengan adanya kehidupan di muka bumi. Hasil karya seni rupa sangat beragam, mulai dari bentuk sederhana sebagai awal lahirnya sebuah kebudayaan di zaman prasejarah hingga mencapai bentuk yang kompleks seperti di zaman modern ini.

Pertumbuhan seni rupa didasari oleh pandangan manusia yang dinamis dalam konsep, proses, dan keahlian berkarya seni rupa sehingga menghasilkan beragam karya, baik berupa gagasan, tema, bentuk, bahan atau media yang dipakai, teknik serta prosedur praktik dan cara penggunaannya. Proses yang panjang dan memakan waktu yang lama serta terus menerus dalam berkarya akan menghasilkan sebuah identitas bagi si pencipta atau seniman dalam menemukan jati dirinya. 

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, identitas itu akan memberikan pengaruh penting dalam pengakuan karya cipta seseorang. Hal itu akan berpengaruh pula pada keuntungan dari segi moril dan materil, termasuk pada kebanggaaan diri, kelompok, atau bangsa. Hasil karya tersebut akan mendapat pengakuan dari masyarakat, bangsa, bahkan dunia. Misalnya, lukisan Affandi yang banyak mendapat pengakuan dari masyarakat dunia.

Untuk mendapatkan pengakuan dari dunia luar tersebut, seorang seniman harus bekerja dengan kesungguhan dan hati, bekerja terus-menerus dengan memperbanyak praktek dan terus mengolah imajinasi serta pengetahuan teknik. Hal tersebut dapat diringkas melalui skema berikut ini.

Sikap Apresiasi Seni Rupa Murni Nusantara

2. Mengapresiasi Karya Seni Rupa Murni 

Tujuan utama penciptaan karya seni rupa murni adalah untuk mengungkapkan ekspresi jiwa, gagasan, atau ide untuk kepentingan estetis tanpa dikaitkan dengan kepentingan praktis. Oleh karena itu, seni murni diciptakan tanpa hal-hal lain yang berkaitan dengan fungsi praktis sehingga dalam penciptaannya tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu. 

Sebuah karya seni rupa murni yang telah dibuat oleh seorang seniman pada akhirnya akan masuk ke dalam lingkungan luar. Lingkungan itu bisa berupa orang lain, komunitas pecinta seni, galeri, atau masyarakat umum. Apabila karya tersebut telah masuk ke dalam suatu lingkungan, akan terjadi proses saling menanggapi dan saling berkomunikasi antara keduanya dengan bahasa tertentu. Nah, proses inilah yang dinamakan dengan apresiasi.

Tujuan pokok dari apresiasi karya seni secara umum adalah menjadikan masyarakat dapat menerima dan menikmati sebuah karya atau masyarakat menjadi peka seni. Dari proses inilah nantinya masyarakat mau dan mampu untuk mengomentari sebuah karya. Komentar yang dilontarkan oleh masyarakat akan membentuk sebuah opini tentang seni. Opini bisa bersifat khusus tentang hal kekaryaan seperti warna dan bentuk, atau di luar kekaryaan seperti ide, gagasan, makna, pesan, dan tujuan pembuatan karya. Komentar dan opini inilah yang sdalam seni rupa sering disebut dengan kritik seni.

3. Tahapan Mengapresiasi Karya Seni Rupa Murni 

Dalam mengapresiasi karya seni rupa murni, seorang pengamat dapat memberikan penilaian terhadap karya secara bebas selama penilaiannya tidak menyimpang dari hal-hal yang bersifat norma umum. Misalnya, seseorang melontarkan kata-kata kasar yang cenderung melecehkan bahkan menghina karya orang lain atau menjelek-jelekan karya yang sedang dipamerkan. 

Akan jauh lebih baik jika seseorang menanggapi sebuah karya berdasarkan pengetahuan dan pemahaman secara rasional. Kedua hal tersebut tentunya akan menjadi pembeda sekaligus mengungkap cerminan sebenarnya diri. Adapun tahapan dalam mengapresiasi karya seni rupa murni seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis adalah sebagai berikut.

a. Tahap Awal

Tahap awal merupakan tahap ketika seorang pengamat melihat sebuah karya, baik karya yang dipamerkan maupun melihat karya tertentu secara sekilas. Tahap ini disebut juga dengan tahap perkenalan. 

b. Tahap Penghayatan 

Tahap penghayatan merupakan tahap di mana seorang pengamat berupaya untuk mengamati lebih jauh lagi dan berusaha untuk memahami serta menghayati sebuah karya. Dalam tahap penghayatan, seorang apresiator akan berpikir sejenak atau lama bergantung pada pengetahuan yang dimilikinya. Proses penghayatan ini merupakan tahap yang penting dan utama dalam mengapresiasi karya. 

c. Tahap Penilaian 

Tahapan penilaian merupakan tahap pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu tentang bernilai atau berharganya suatu karya seni. Tahapan ini juga dapat dikatakan sebagai tahap penghargaan dengan menentukan apakah karya yang sedang diapresiasi baik atau indah. 

Dalam mengapresiasi sebuah karya seni rupa kamu dapat memahami, menghayati, menilai, dan memberikan keputusan terhadap sebuah karya seni secara bebas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini. 

  1. Mendeskripsikan (pemaparan) sebuah karya dengan cara menemukan dan mencatat sesuatu yang dilihat apa adanya, namun tidak mengambil kesimpulan apapun. 
  2. Uraian kebentukan (formal), yaitu tahapan menelusuri sebuah karya berdasarkan strukturnya, baik itu warna, garis, bentuk, maupun teksturnya. 
  3. Penafsiran makna yang meliputi tema yang digarap dan masalah-masalah yang dikemukakan. 
  4. Penilaian, yaitu tahapan untuk menentukan derajat suatu karya seni. Itulah beberapa tahapan dalam mengapresiasi karya seni rupa. 

Kamu tentunya dapat melakukannya pula. Semakin banyak kamu melihat karya seni maka akan semakin kaya pengalaman estetis dan semakin mudah untuk memahami, menghayati, serta menilai karya diri sendiri dan karya orang lain.

Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Sikap Apresiasi Seni Rupa Murni Nusantara"